Tak pernah kuduga aku akan mengalami situasi seperti ini, dalam pelarian bersama seorang wanita yang tak kuketahui identitasnya, kecuali namanya. Keringat membanjiri kausku, hingga tak lagi kurasakan dinginnya malam di hari Minggu ini. Sesekali kupelankan lari agar wanita itu tidak tertinggal. Aku sedikit iba dengan kakinya yang pasti sekarang telah lecet tak karuan karena sebelum berlari bersamaku, ia menanggalkan high heels yang dipakainya. Tentu saja, ia tak ingin tertangkap dan harus kembali pada kehidupan yang telah ia putuskan untuk ditinggalkan.
Kuhentikan langkahku dan berlutut. Paru-paruku kewalahan mengiringi gerak cepatku. Kupikir berhenti sepuluh menit saja tak mengapa. Toh, pria itu tak akan mampu mengejar kami hingga sejauh ini, mengingat tulang kering di kaki kirinya sudah kupatahkan. Kutatap rembulan separuh yang sinarnya tertutup semburat awan kelabu, dan bertanya dalam hati, masihkah tersisa gulai kambing buatan Ibu untukku.
***
4 jam yang lalu.
Aku selalu menikmati guncangan pelan di atas kereta api yang rutin kutumpangi setiap Sabtu sore, sebulan sekali. Ajaibnya, aku selalu mendapat tempat duduk di dekat jendela, tempat kesukaanku. Kepulanganku ke kampung halaman kuanggap sebagai waktu spesialku bersama tarian sang ular besi dan suguhan pemandangan alam sebagai sumber energiku untuk menghadapi penatnya pekerjaan sebulan ke depan.
Akan lebih menyenangkan jika kursi di depanku tak berpenghuni. Aku bisa menyelonjorkan kaki panjangku sesekali. Namun, hari ini aku tidak mendapatkan kesenangan itu. Seorang lelaki berkulit gelap dan berwajah masam duduk tepat di hadapanku. Lengan kirinya mengapit erat lengan wanita bertubuh mungil yang duduk di sebelahnya. Tangannya menggenggam erat tangan kanan istrinya. Aku bisa mengatakan mereka suami istri dari cincin yang melingkar di jari manis mereka.
Kali ini, bentangan sawah nan hijau dan jajaran rumah yang kulewati sepanjang jalan tidak berhasil membuat kepalaku terus menerus menoleh ke arah jendela seperti biasanya. Ketenanganku sedikit terusik dengan bahasa tubuh sang istri yang sepertinya sedang dilanda kegelisahan. Tangan kirinya membuat gerakan berulang, membuka dan menutup kancing tas tangan yang ia letakkan di atas pangkuannya. Ujung kaki kirinya terus bergoyang.
Oke, kuputuskan untuk menyudahi analisaku. Cepat-cepat kupalingkan wajahku kembali ke arah jendela. Kereta baru saja melewati persimpangan lima. Dua puluh menit ke depan aku akan segera sampai di kota kelahiranku. Lezatnya gulai kambing buatan Ibu mulai membayangi rongga mulutku yang tiba-tiba basah oleh air liur. Ah, masakan Ibu memang tiada duanya.
Memikirkan gulai kambing, menyeret ingatanku kembali ke tujuh tahun lalu. Saat itu, Ibu, Bapak, dan aku tengah menikmati makan malam spesial. Kambing yang dimasak Ibu adalah kambing hasil kurban Bapak waktu Iduladha kemarin. Masih kuingat betapa semringah wajah Bapak, menikmati gigitan demi gigitan yang mulai berjejal memasuki lambungnya. Itu adalah kurban pertama Bapak sejak ia diberhentikan dari perusahaannya tiga tahun lalu. Bapak menabung setiap bulan agar dapat kembali berkurban. Kami pun rela berteman dengan tahu, tempe dan sayur-sayuran hasil kebun kami setiap hari, demi memenuhi hajat mulia itu.
Keceriaan kami berubah ketika tiba-tiba kakakku datang. Bukan kedatangannya yang mengejutkan kami, namun seseorang yang turut serta bersamanya. Sepanjang pengetahuanku, Mas Pras tidak pernah dekat dengan lawan jenis, satupun. Ia selalu menjaga jarak aman dari teman-teman perempuannya, baik di kampung, ataupun di kampusnya. Namun kali itu ia membawa seorang gadis. Cantik pula!
