Aku tiba-tiba tersenyum sendiri, mengingat betapa merah muka Mas Pras ketika ia meminta izin kepada Bapak untuk dapat menikahi gadis itu. Ibu, yang selalu baik kepada siapapun, langsung mengajak Mbak Lena – wanita yang sekarang telah menjadi istri kakakku- untuk ikut menyantap gulai kambing bersama kami. Ah, sihir macam apa yang dimiliknya, hingga malam itu ia berhasil mengantongi restu dari Bapak dan Ibu. Pasti itu sihir baik. Sampai sekarang, aku selalu tak bisa melewatkan hariku tanpa menelepon keponakanku yang tampan dan menggemaskan, seperti pamannya ini pastinya.
Aku tersentak dari lamunanku ketika betis kananku tersenggol oleh sesuatu. Ternyata tas tangan wanita di depanku terayun mengenai kakiku. Ia terlihat terburu-buru hendak pergi. Mungkin ia ingin ke kamar kecil, entahlah. Namun suaminya menghalanginya dengan menarik keras tangan ramping sang istri hingga ia kembali terduduk dengan kerasnya hingga kudengar pekikan kecil dari wanita itu. Aku menoleh ke seluruh penjuru gerbong yang kutumpangi. Tidak ada satupun penumpang yang sepertinya memedulikan adegan itu, kecuali aku.
“Duduk! Jangan kau buat alasan kantung kemihmu itu. Aku tahu kau tidak ingin buang air kecil. Kau hanya ingin lari dariku.”
Baca Juga Cerpen Ini : Sebuah Pertemuan Pengikat Hati
Lelaki itu memang berbisik, namun telinga super tajamku tetap bisa menangkapnya dengan jelas. Aku merasakan sinyal tanda bahaya menyala di otakku. Sesekali aku mencoba mencuri pandang ke arah mereka. Jujur saja, aku mulai khawatir dengan nasib wanita itu, yang sedari tadi menundukkan kepalanya. Ah, apakah itu air mata yang baru saja menetes di atas tas tangannya?
Kereta api sedikit berguncang, lalu kecepatannya mulai berkurang secara perlahan. Ah, sudahlah, sebaiknya kumatikan saja alarm bahaya ini. Terngiang percakapanku dengan kakakku ketika kami masih remaja. Ia kelas sebelas, sedang aku kelas tujuh.
“Harus berapa kali aku mengingatkanmu. Jangan lagi-lagi sok pahlawan, Gus. Aku tahu, kau mewarisi sifat Bapak, selalu kasihan dengan orang lain. Tapi, kamu perlu memikirkan nasibmu sendiri. Runyam, kan, sekarang. Kau jadi ikut kena hukuman Kepala Sekolah hanya gara-gara menolong Banu yang tak bisa melindungi dirinya sendiri.”
“Justru karena ia tak bisa melawan para perundung itu, makanya aku membantunya, Mas. Coba kalau Mas Pras di posisi Banu, pasti Mas akan berterima kasih kepadaku, bukannya malah memarahiku.”
“Betul, dan sampai kapan pun Banu tidak akan pernah belajar melawan. Ia akan selalu menunggu pertolonganmu. Tidakkah kau justru kasihan jika Banu memiliki mental seperti itu sampai ia dewasa nanti?”
Aku kembali tersadar dari lamunanku. Lelaki di depanku mulai berdiri, dengan tangannya yang tetap erat memegang tangan wanita itu. Sontak aku menoleh ke arah jendela. Ah, betul saja, kereta sebentar lagi berhenti di stasiun tujuan.
Selepas turun dari gerbong kereta, kakiku seperti memiliki pikirannya sendiri. Ia membawaku mengikuti langkah-langkah cepat sepasang suami istri tersebut yang kini mulai menghilang dari pandangan. Suasana stasiun malam hari di masa PPKM begini cukup lengang hingga telingaku mampu menangkap suara high heels yang beradu dengan kerasnya trotoar nun jauh di depan.
Tanpa menghiraukan teriakan protes Mas Pras yang menggaung di kepalaku, kupercepat langkahku mengikuti arah suara itu. Ini tak sama seperti Banu, atau Joni, atau Mira, dan semua teman masa kecilku yang pernah kutolong. Entah apa yang akan terjadi, malam ini sepertinya aku akan menjadi pahlawan.
***
“Kamu enggak apa-apa?”
Wanita itu menepuk bahuku lembut. Sepertinya sudah sepuluh menit lebih aku bersandar di pohon tua ini, pohon yang dahulu kerap menjadi saksi bisu pertengkaran maupun keakuranku dengan Mas Pras.
Aku meringis malu. “Masih agak capek. Maaf ya, kayaknya karena saya kurang olahraga akhir-akhir ini.” Entah mengapa aku perlu memberikan alasan konyol itu kepada Sinta, wanita yang baru saja kuputuskan untuk kutolong malam ini.
Sinta menyandarkan tubuhnya ke pohon, lalu berkata, “Maaf, ya, aku melibatkan kamu dalam urusanku. Setelah ini, bisa tolong antar saya ke kantor polisi terdekat?”
Masih melekat jelas dalam ingatanku, sebelum kuputuskan untuk menghajar suami Sinta, kudengar ia mengancam akan membunuh istrinya malam ini. Dan menuju kantor polisi memang adalah satu-satunya hal yang masuk akal, sebelum pria itu menghilang dari kota ini.
“Tentu saja, setelah ini kau akan kuantar ke kantor polisi. Tapi sebelum itu, aku perlu pulang sebentar, mengabarkan orang tuaku kalau aku sudah pulang. Rumahku di ujung gang ini. Tidak apa-apa, ya?”
Ia tersenyum dan mengangguk pelan. Bibirnya menggumamkan kata terima kasih.
Seratus meter lagi dan aku akan mengejutkan keluargaku, khususnya Mas Pras yang pasti sudah sejak tadi tiba dari Jakarta. Bisa kubayangkan ia akan mentertawakan kedatanganku dan mengatakan, “Kau memang tak pernah menuruti nasihatku. Sok pahlawan. Lihatlah hasilnya, kau berakhir sepertiku, membawa wanita asing ke rumah kita!”
***
