Hari Pembalasan

“Kenapa pak?Perutnya tidak enak ya?” tanya Putra. Hendy menangkap nada suara Putra hanyalah basa basi. Ia melirik Putra sebentar yang tengah tenggelam dalam kepulan asap. Hendy mulai merasakan tanda bahaya di otaknya.

“Mas Putra kok bisa tahu kalau perut saya sakit? Apa mas menyuruh mas Rudi menaruh sesuatu di kopi saya?!” Keringat dingin mulai bermunculan di dahi. Hendy merasa degup jantungnya bertambah cepat.

Putra tidak segera menjawab pertanyaan Hendy. Kali ini, senyum yang selalu tersungging di wajahnya telah hilang. Ia mematikan rokoknya dan melemparkan tatapan tajam kepada Hendy yang tengah sibuk mengusap peluh di dahinya.

“10 tahun yang lalu. Tepatnya, 1 Februari 1995. Pukul 15.45. Di ruang kerja bapak yang selalu berbau obat pel aroma lemon itu. Sampai sekarang apa bapak masih selalu menyuruh office boy mengepel lantai tiga kali sehari?”

Hendy mulai merasa otot kaki dan tangannya melemah. Sakit di perutnya makin menjadi. Sejenak ia mengedarkan pandangnya ke penjuru kafe. Tempat yang tadinya ramai sekarang telah sepi. Dari balik jendela kaca ia melihat para penumpang berduyun-duyun menaiki armada bus baru. Nampaknya hujan telah berhenti.

Ingin rasanya Hendy berlari keluar, namun kakinya sulit digerakkan. Susah payah ia menahan tubuhnya agar tetap tegak duduk di kursi. Kali ini ia mengamati wajah Putra dengan lebih seksama, sementara otaknya berputar dengan keras, kembali ke masa awal ia mendirikan perusahaan konstruksinya, pertengahan tahun 1990.

Senyum Putra kembali menghiasi wajahnya. Namun kali ini bukan senyum ramah seperti yang ia tampilkan sejak tadi. Ini adalah senyum kemenangan. “Sudah ingat, pak?”

Mata Hendy kini tak sanggup lagi membuka. Ia hanya ingin berbaring dan terlelap. Namun telinganya masih jelas menangkap suara Putra. “Ya, saya Putra. Karyawan yang pernah bapak pecat dengan sangat tidak hormat. Bapak tidak tahu hancurnya mental saya waktu itu. Sejak saat itu saya bertekad untuk membalas perbuatan Bapak.”

“Saya mulai membangun bisnis saya dari nol. 10 tahun waktu yang cukup untuk membuat nama perusahaan saya dikenal se antero Jawa. Proyek manapun saya sikat, pak. Saya tidak mengenal kata kalah. Cukup satu kali saja saya kalah dari Bapak. Dan untuk pagi ini, saya pun juga harus menang. Orang saya sudah bersiap di Malang, memenangkan tender milyaran yang sepertinya memang tidak akan bisa Bapak menangkan.”

Hendy menelungkupkan tubuhnya di atas meja. Nampaknya aku menuai apa yang telah aku tabur. Akankah akhir hidupku menyedihkan seperti ini?

Seperti bisa membaca rintihan hati Hendy, Putra beranjak dari duduknya sambil berujar, “Tenang pak, Bapak hanya akan tak sadarkan diri selama kurang lebih 5 jam. Hidup bapak belum berakhir kok. Namun jika setelah ini bapak berani melapor ke polisi, tenang saja, anak buah saya dimana-mana. Oh, termasuk sopir dan kondektur bus tentunya.”

Putra membungkukkan badannya, mendekatkan mulutnya ke telinga Hendy dan berbisik. “Mission accomplished.”

***

Cerpen ini telah dimuat pada buku antologi berjudul “Kafe Hujan” yang diterbitkan oleh Ellunar Publisher.

2 thoughts on “Hari Pembalasan”

  1. Pingback: Arisan - Aulia Rahmawati

  2. Pingback: Cerpen : Sebuah Pertemuan Pengikat Hati - Lee Ara

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top