[20.10]. Bus malam yang ditunggu-tunggu oleh Hendy akhirnya tiba di terminal Giwangan. “Terlambat satu jam,” gerutu Hendy. Nampaknya tidak hanya Hendy yang kesal. Beberapa penumpang lain menunjukkan raut wajah yang lelah dan gusar ketika mereka berbaris antri menaiki bus itu.
“Maaf Bapak, Ibu, tadi benerin ban bocor dulu,” jelas sopir bus kepada para penumpang yang mulai memenuhi kursi di dalam bus, termasuk Hendy yang baru saja mendaratkan pantatnya di kursi deret sebelah kiri, dekat jendela.
Beberapa menit kemudian kursi di sebelah kanannya terisi. Hendy tersenyum sekilas kepada lelaki berjaket kulit itu yang sepertinya masih berusia tiga puluhan.
Ketika roda bus mulai menggelinding meninggalkan terminal, Hendy menata posisi duduknya senyaman mungkin, bersiap untuk menghabiskan 10 jam ke depan dengan tidur. Tiba-tiba ia merasakan paha kanannya basah. Sontak Hendy menegakkan duduknya dan mengibaskan kakinya.
“Aduh, maaf pak, nggak sengaja. Ini pak saya ada sapu tangan, bisa dipakai.” Tangan kiri lelaki di sebelah Hendy memegang botol air mineral, sedangkan tangan kanannya mengulurkan sapu tangan ke arah Hendy.
Hendy menerima sapu tangan tersebut dan mengusapkannya ke celananya. “Iya mas, tidak apa-apa” jawabnya singkat. Tak ingin memperpanjang obrolan, ia segera kembali menata posisi duduknya dan memejamkan mata.
“Bapak kerja di Jogja, apa di Malang?”
Mata Hendy seketika terbuka kembali. Ia menoleh dan kali ini ia mengamati teman duduknya itu dengan seksama. Bertubuh kekar, tingginya mungkin 10 cm di atas Hendy dan berkulit agak gelap.
“Saya Putra, pak. Malam begini enaknya dibuat ngobrol saja ya daripada sepi.” Putra mengulurkan tangannya, tersenyum lebar.
Dengan enggan, Hendy menerima uluran tangan Putra. “Hendy. Kalau saya lebih suka tidur mas, besok pagi saya ada rapat di Malang, biar segar.”
“Wah, semoga rapatnya besok lancar ya, pak. Bapak kerja di perusahaan apa ya kalau boleh tahu?“
“Arsitektur mas,” sahut Hendy singkat, matanya terpejam.
Sejenak Putra melemparkan pandangannya ke luar jendela. Gerimis mulai turun, memukul-mukul kaca jendela dengan lembut. Putra berpaling ke arah Hendy yang matanya masih terpejam. “Wah kebetulan sekali, pekerjaan saya juga di bidang itu, pak.”
Hening. Entah Hendy sudah pergi ke alam mimpi atau dia hanya berpura-pura tidur agar tidak perlu meladeni teman barunya itu. Putra tersenyum kecil. Ia meregangkan tubuhnya sambil menguap lebar. Disilangkannya kedua tangan di dada dan bersiap untuk mengikuti jejak lelaki berperut buncit di sebelahnya, terbang ke alam mimpi.
***
Tags: ceritapendek, cerpen, cerpenleeara
2 thought on “Hari Pembalasan”