Hari Pembalasan

Pramusaji datang membawakan kopi pesanan Hendy, lalu ia berkata kepada Putra, “Bapak kalau mau istirahat monggo di kamar atas, sudah kami siapkan.”

Putra mengangguk kecil. “Oke mas Rudi, terima kasih ya.”

Pandangan Hendy bergantian ke arah Putra dan Rudi. Pikirannya terusik. Tak mampu lagi menahan penasarannya, Hendy bertanya, “Mas Putra pemilik kafe ini?”

Putra tertawa, menggaruk rambutnya. “Ketahuan deh saya. Iya betul, pak. Ini cabang terbaru saya di Jawa Tengah. Pusatnya di Jogja. Di Jawa Timur sudah lumayan banyak juga. Ada …,” Putra berhenti sejenak sambil berhitung dengan jemarinya, “8 kafe, termasuk di Malang.”

Mulut Hendy menganga. Tanpa memedulikan ekspresi Hendy, Putra melanjutkan bicaranya. “Kafe ini hanya sambilan pak. Pekerjaan utama saya ya seperti yang saya bilang di bus tadi malam, arsitek.”

Putra mengeluarkan sebatang rokok dan korek api dari saku celananya. Sejurus kemudian asap mulai mengepul. Hendy dengan sabar menunggu kelanjutan cerita Putra. Kopi hitam nya ia minum perlahan. Masih panas.

“Tentu saja saya harus melalui banyak rintangan untuk bisa sampai di titik ini pak. Pasti pak Hendy lebih paham dari saya, kan senior,” seloroh Putra.

Hendy menyesap kopinya lagi. “Saya tidak ada apa-apanya dibanding mas Putra. Saya yakin, omset tahunan perusahaan konstruksi saya jauh lebih kecil dibanding laba bisnis mas Putra.”

“Ah, pak Hendy bisa saja,” sahut Putra seraya menawarkan rokok ke Hendy yang segera ditolak dengan halus. “Ah, bapak masih tidak merokok ya sampai sekarang.”

Sejenak Hendy menatap Putra, bertanya-tanya dari mana orang ini bisa tahu kebiasaannya. Ia hendak melontarkan pertanyaan ketika tiba-tiba ia merasakan perutnya melilit. Ia pun mengambil botol air minum dari ranselnya dan menenggak air putih dengan cepat.

2 thoughts on “Hari Pembalasan”

  1. Pingback: Arisan - Aulia Rahmawati

  2. Pingback: Cerpen : Sebuah Pertemuan Pengikat Hati - Lee Ara

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top