Untuk ketiga kalinya kondektur bis menepuk pundak Hendy, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Hendy tersentak, kembali ke dunia nyata. Setengah linglung, ia menoleh ke arah kondektur, meminta penjelasan.
“Hah, susah sekali Bapak dibangunkan. Semua penumpang sudah turun, kecuali Bapak. Bus nya mogok setengah jam yang lalu,” ujar kondektur gusar seraya berlalu meninggalkan Hendy yang nyawanya masih belum genap terkumpul.
Dari balik jendela ia melihat sebagian penumpang sedang duduk-duduk di pelataran parkir sebuah kafe yang dinaungi kanopi baja. Sebagian lagi memilih untuk merokok sambil menyesap kopi hitam di warung kopi seberang jalan. Hendy membaca spanduk lusuh yang terpasang di depan warung tersebut, lalu tersentak. Warung Kopi Lumintu – Sragen.
Hendy melirik arlojinya dan mendengus kesal. [01.43]. Sudah dini hari dan aku bahkan belum keluar dari Jawa Tengah, batin Hendy. Ia meraih ranselnya, meletakkannya di atas kepala dan bergegas keluar dari bus.
Ternyata di luar hujannya sangat deras, sehingga ia mengurungkan niatnya untuk menyeberang ke warung kopi Lumintu dan segera berlari ke arah kafe, bergabung dengan para penumpang lain. Ia bertanya kepada salah satu di antara mereka, “Mas, tadi supirnya bilang nggak nasib kita bagaimana? Bakal dicarikan bus lain atau bagaimana?”
“Katanya sih sedang dipanggilkan bus lain, pak. Tapi ini sudah setengah jam lebih belum datang juga.”
Ketika Hendy hendak duduk di sebelah penumpang tersebut, seseorang memanggilnya dari arah pintu masuk kafe. “Pak Hendy, masuk sini saja. Saya traktir kopi!”
Ternyata Putra. Sebenarnya Hendy enggan berurusan dengan Putra lagi, namun ia lemah kalau mendengar kata kopi. Hendy mengangkat ibu jari tangan kanannya sebagai isyarat ia bersedia.
Setelah memasuki kafe, Hendy melepaskan jaketnya yang basah dan berjalan menghampiri Putra yang sedang duduk sambil menyesap kopinya. Sejenak Hendy merasa malu mengingat bahwa ia telah bersikap tidak sopan kepada anak muda itu sejak awal perjalanan.
Pramusaji menghampiri meja mereka berdua dan menanyakan pesanan. “Silakan pak Hendy, monggo mau pesan kopi apa. Yang jelas semua kopi di Kafe Kenangan ini rasanya tiada duanya,” ujar Putra.
Hendy menggumamkan pesanannya kepada pramusaji yang segera beranjak pergi. “Terima kasih banyak ya, mas Putra. Maaf tadi di bus saya mengantuk sekali.” Hendy tersenyum kikuk.
“Tidak apa-apak, pak. Saya juga tidur kok tadi,” jawab Putra, tersenyum ramah.
“Semoga armada penggantinya segera datang ya, bisa gawat kalau saya terlambat sampai Malang.” Hendy melirik arlojinya untuk kesekian kalinya.
“Di dekat wastafel ada telepon umum pak, misal Bapak ingin menghubungi kolega untuk rapat besok,” ujar Putra seraya menunjuk ke sudut kafe.
“Mana mungkin jam segini telepon teman. Ada-ada saja sampean ini.” Putra mengedikkan bahunya, tertawa.

Pingback: Arisan - Aulia Rahmawati
Pingback: Cerpen : Sebuah Pertemuan Pengikat Hati - Lee Ara