Lima belas menit lagi kereta yang kutumpangi akan tiba di stasiun Semarang Poncol. Kupastikan kembali bahwa semua barangku telah kumasukkan kembali ke ransel dan sekardus besar yang berisi oleh-oleh dari Surabaya telah kusiapkan di dekat kakiku. Kalau saja aku tidak pelupa, pasti saat ini aku akan masih meneruskan tidurku. Rasanya telingaku bisa mendengar teriakan Ibu nun jauh disana, “Jangan sampai ada barang yang tertinggal, apalagi kardus oleh-oleh untuk teman barumu itu. Jangan sampai kau mempermalukan Ibumu ini, menitipkan anak tanpa ada balasan apa-apa.”
Kereta sedikit berguncang. Kusandarkan kepala pada jendela gerbong, mengamati jajaran rumah dan pepohonan yang seolah bergulir melewatiku. Mengamati hiruk pikuk jalanan kota Semarang yang baru saja dipeluk malam membuatku tenggelam dalam lamunan.
Mungkin aku adalah satu dari sekian juta sarjana yang berlomba-lomba mengejar status pegawai negeri sipil, entah karena ambisi orang tua atau memang keinginan pribadi. Alasan pertama itulah yang membuatku pergi ke kota ini.
Ayah dan Ibu selalu mengatakan bahwa masa depanku akan cerah jika aku bekerja sebagai abdi negara, seperti mereka berdua. Aku tahu, mereka menginginkan kemapanan untuk anak sulungnya ini. Aku bisa saja menjelaskan dengan berbusa-busa pada mereka bahwa kemapanan juga dimiliki oleh para orang tua temanku yang bekerja sebagai karyawan swasta atau wiraswasta. Tapi pada akhirnya diam adalah jalan terbaik.
Kereta mulai melambat. Aku tersentak. Pengeras suara di stasiun Semarang Poncol menghantarkan pesan selamat datang kepada kami, para penumpang kereta Jayabaya Ekonomi yang telah menempuh perjalanan 4 jam dari Surabaya. Sayup-sayup kudengar alunan lagu khas Jawa Tengah yang menyambut kedatangan kami.
Bergegas kuangkut semua barangku dan berjalan menyusuri lorong gerbong kereta bersama para penumpang lainnya. Begitu menginjakkan kaki di stasiun, aku tak membuang waktu dengan membaca penunjuk arah yang terpampang di setiap sudut stasiun ini. Cukup kuikuti saja rombongan penumpang yang pastinya mereka menuju pintu keluar.
Semilir angin malam yang cukup hangat menyambutku di pintu keluar. Aku mencari dinding yang cukup nyaman untuk kusandari. Pantatku rasanya kebas setelah berjam-jam duduk di kereta.
Beberapa kali aku memeriksa layar telpon selulerku, menunggu pesan dari lelaki yang sebentar lagi akan kutemui. Nantinya ia akan meminjamkan kamar indekostnya untuk kupakai menginap satu malam saja.
Oke, kedengarannya memang mengerikan. Bermalam di sebuah indekost laki-laki, di kota yang sama sekali asing bagiku. Tapi tentu saja orang tuaku tak akan mengizinkanku jika kenyataannya semenakutkan itu.
Dua minggu yang lalu aku mendapat kabar bahwa aku lolos seleksi penerimaan pegawai negeri sipil di salah satu BUMN. Aku harus melewati tahap akhir berupa wawancara, yang akan berlangsung besok pagi. Seperti sudah kuduga, ibuku kegirangan. Ia segera menghubungi teman baiknya, Bu Mia, yang anak sulungnya sudah dua tahun bekerja di Semarang. Anak bu Mia itu, Danar, tinggal di sebuah indekost campur yang memiliki penjagaan yang ketat. Danar menyanggupi akan meminjami kamar kosong milik temannya untuk dapat kupakai satu malam saja.
Kulirik jam tangan berbentuk hati di tangan kiriku. Jika dia tepat waktu, lima menit lagi ia akan tiba disini. Aku mengeluarkan kamera saku dan mulai mengambil beberapa foto eksterior bangunan cagar budaya ini. Dimanapun aku menemukan bangunan bersejarah atau gedung bergaya arsitektur unik, aku tak pernah menyia-nyiakannya.
Lalu, seseorang menepuk pundakku pelan. Aku segera melepaskan mataku dari balik lensa kamera dan menoleh ke arah kanan.
“Diana ya?”
“Ah, iya betul. Danar kan?”
Bau harum menguar dari tubuh lelaki yang baru saja mengenalkan dirinya kepadaku. Ia mengulurkan tangannya dan kami pun berjabat tangan. Detik berikutnya ia memintaku mengikutinya berjalan kaki menuju tempat indekostnya. Ah, ini tidak terpikir olehku sebelumnya. Kukira ia akan mengantarku dengan mobil atau motor.
Seperti bisa membaca pikiranku, ia kemudian berkata bahwa tempat yang akan kami tuju sangat dekat dari stasiun, cukup berjalan santai dua belas menit. Kemudian aku bertanya padanya apakah terdapat warung makan di sekitar sini, yang disambut gelak tawanya yang renyah.
“Pasti laper ya? Iya, banyak kok. Kita mampir makan dulu aja, oke?”
Aku cepat-cepat mengangguk. Pada dasarnya aku pemalu, tapi untuk urusan perut aku tidak punya malu. Bisa gawat kalau maag kambuh di saat aku harus beristirahat total demi menghadapi hari penentuan.
Kami menghabiskan sepuluh menit dengan saling berkenalan singkat. Tak pernah kusangka bahwa sosok Danar begitu ramah dan menyenangkan, berbeda dengan karakter bu Mia yang high profile. Tinggiku hanya menyampai pundaknya, membuatku harus selalu mendongak untuk berbicara dengannya. Dan satu lagi, lelaki ini sungguh tampan. Baiklah, malam ini sepertinya akan menyenangkan, gumamku dalam hati.
Kami berhenti di sebuah warung soto ayam yang terlihat ramai pengunjung. Danar menanyakan apakah aku berkenan makan malam di warung itu. Tentu saja aku tidak menolaknya. Soto ayam adalah menu favoritku.
“Wah, kita sama donk. Ini warung langgananku. Tak hanya kenyang, dijamin perutmu akan bahagia!” ujar Danar.
Setelah memesan dua porsi soto ayam dan dua es jeruk, aku meletakkan ranselku di atas meja nomer lima sambil tak lupa kuserahkan sekardus oleh-oleh titipan Ibuku untuk Danar.
Danar yang baru saja duduk di depanku terperangah. “Wah, sampai repot-repot begini. Sampaikan terima kasihku kepada tante Mela ya.” Seulas senyum menghiasi wajahnya. Sungguh vitamin malam hari yang sangat menyehatkan.
Aku mengibaskan tanganku sambil lalu. “Ah, justru kami yang lebih merepotkanmu.”
“Repot apanya? Kebetulan ada dua kamar kosong malam ini. Mereka sedang mudik. Nanti kamu bisa pilih kamar Sinta atau Dewi. Tapi saranku, pilih kamar Dewi aja, rapiii jali.” Danar mengatakannya dengan ekspresi yang membuatku tak sanggup menahan tawa.
Tiba-tiba seekor anak kucing mendekatiku dan menggosokkan kepalanya berulang kali ke kakiku. Refleks, kuangkat kucing domestik berbulu putih itu dan meletakkannya di pangkuanku. Ia lantas merebahkan kepalanya di tanganku.
“Kamu masih saja suka kucing ya, Di.”
Aku mendongak menatapnya. Untuk sesaat otakku mencerna kata-kata yang baru saja ia lontarkan. Lalu beberapa detik kemudian aku melihat pipinya yang memerah. Mudah sekali melihatnya, kulit wajahnya putih dan bersih, tidak seperti kulitku yang seperti buah sawo yang terlalu matang.
“Aku kan pernah ke rumahmu. Lima tahun lalu. Antar ibuku arisan.” Tangan kanannya menyisir rambut ikalnya dengan kikuk.
Aku berusaha keras menahan senyumku. Aku ingat, waktu itu aku bersantai bersama kucingku, Mili, di teras rumah. Setiap teman Ibu yang datang selalu kusapa, termasuk bu Mia, namun aku tidak mengingat keberadaan Danar sama sekali.
Aku hendak bertanya lebih lanjut ketika pesanan kami datang. Tanpa banyak bicara, kami segera menyantapnya. Tak lupa aku memberi beberapa potongan ayam kepada si anak kucing yang kini duduk manis di kursi sebelahku. Tak sampai 5 menit, semua isi piring sudah masuk ke perut Danar. Sepertinya ia jauh lebih kelaparan daripada aku.
“Lalu, apalagi yang kamu ketahui tentang aku?”
Baca Cerpen Ini Juga : Hari Pembalasan
Ia sedikit tersedak ketika sedang menghirup es jeruknya. Spontan aku menertawakannya. Sambil mengusap dagunya dengan tisu, ia pun ikut tertawa, lalu ekspresinya berubah serius dalam sekejap.
“Kamu sarjana lulusan arsitektur, fresh graduate. Saat ini kamu sedang bekerja di konsultan swasta, tapi orang tuamu tidak puas. Mereka memintamu untuk terus mencoba setiap ada lowongan pegawai negeri sipil. Dan besok kau akan mengetahui apakah keberuntungan ada di pihak orang tuamu atau tidak.”
Susah payah aku menelan suapan soto ayam terakhirku. Buru-buru aku menenggak es jerukku. Itu bukan jawaban yang kuduga akan keluar dari mulut lelaki yang baru saja kukenal 30 menit yang lalu. Aku tidak menemukan alasan yang masuk akal, mengapa Ibuku repot-repot menceritakan diriku kepada sahabatnya. Parahnya lagi, si sahabat menceritakan ulang kepada anaknya. Aku mulai merasa sesuatu sedang disembunyikan dariku.
“Ibumu belum pernah cerita tentang aku, ya?” tanya Danar, yang baru kusadari kali ini ia benar-benar menatap lurus ke mataku. Sedari tadi ia tidak pernah benar-benar memandangku.
Aku menggeleng pelan. Kurasakan debar jantungku mulai terasa cepat. Aku benci kejutan.
Ia mendeham kecil. “Ibu kita mengatur ini semua. Sejak lama mereka ingin menjodohkanmu denganku. Aku akui, Ibumu cerdas sekali,” Danar tertawa kecil, “Ia berhasil mendapatkan info BUMN mana yang rutin mengadakan tes pegawai di kota ini. Kau pun diminta untuk mengikutinya. Tentu saja, Ibumu yakin kau akan sampai di tahap ini, katanya kau sangat cerdas,” lanjutnya.
“Sengaja waktu itu aku meluangkan waktu mengantar Ibuku kerumahmu, hanya ingin melihatmu. Dan, tentu saja, siapa yang tidak tertarik padamu.” Ia berhenti sejenak, mengalihkan pandangannya dariku. Pipinya masih memerah.
“Malam ini, seharusnya aku tidak mengatakannya. Seharusnya semuanya mengalir begitu saja. Kau akan tetap menganggapku teman barumu, dan jika kau merasakan sesuatu yang berbeda pada diriku, biarlah itu terjadi secara alami. Tapi … ”
Aku menyela. “Tapi pada akhirnya kau merasa tidak enak karena telah menyembunyikan sesuatu dariku, sehingga akhirnya kau memutuskan untuk mengatakannya sekarang, ya kan?”
Danar mengangguk. Netranya tertuju pada semangkuk soto ayam dan segelas es jeruk yang kini telah kosong. Berulang kali ia mengusap rambutnya dan membenarkan kacamatanya yang sama sekali tidak melorot.
Jantungku masih berdebar dan pipiku memanas. Ini adalah kejutan terindah yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku bersumpah nanti ketika pulang akan kugelitik perut ibuku habis-habisan dan kucium pipinya sampai basah kuyup.
Tapi saat ini aku tahu yang harus segera kulakukan. Akan kupinta calon suamiku ini untuk mengantarku ke tempat indekostnya dan menghabiskan sisa malam ini dengan berbincang. Aku tak peduli wawancara besok. Ada kenyataan yang lebih indah yang harus aku nikmati saat ini.
***
Cerpen ini telah dimuat pada buku antologi berjudul “Gramatikal” yang diterbitkan oleh Ellunar Publisher
