Jaga Lingkungan, Angkat Perekonomian: Cerita Batik Mangrove dari Pesisir Jambi

“Bercerita dengan penggiat mangrove di desa, cemoohan dan ejekan silih berganti diterimanya, dari membuat sarang monyet lah, dari ingin cari keuntungan sendiri lah, demi mencari uang lah, namun bagi beliau itu bukan lah penghalang untuk menjaga mangrove, bagi beliau yang selalu berkata, ‘mereka hanya belum paham’ .”

Penggalan takarir pada unggahan Instagram milik Qorry Oktaviani itu bukan sekadar curahan hati. Ia adalah gambaran nyata tentang bagaimana upaya menjaga lingkungan kerap kali berbenturan dengan cara pandang masyarakat yang telah terbentuk bertahun-tahun.

***

Batik Mangrove: Konservasi yang Bernilai Ekonomi

Menggugah kepedulian terhadap lingkungan memang bukan perkara mudah. Sejak awal menginjakkan kaki di Desa Tungkal Satu, Pangkal Babu yang berjarak 135 km dari kota Jambi, Qorry mendapati kenyataan bahwa masyarakat setempat selama ini masih menganggap remeh manfaat mangrove.

Sebagai fasilitator lingkungan di bawah naungan NGO Warsi, lulusan Biologi Universitas Andalas itu mengemban tugas untuk melakukan pendampingan lingkungan terhadap masyarakat. Keberadaan Qorry di kawasan pesisir kaya mangrove tersebut pada akhirnya mampu mengubah pandangan warga, bahwa mangrove bukan sekadar kayu bakar, bukan pula sekadar penghalang abrasi, melainkan juga sebuah sumber warna alami untuk batik yang menghidupi.

Mangrove dianggap Remeh: Tebang, Tambak, Lupa Jaga

Dilansir dari situs halojambi.web.id, luas daratan yang terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung Barat adalah sekitar 5.503,5 kilometer. Sebagian dari luasan tersebut berupa kawasan hutan mangrove sebesar 200 hektar yang terletak di Desa Tungkal Satu, Pangkal Babu.

Selama ini, masyarakat setempat masih menganggap remeh terhadap manfaat ekologis mangrove, terlebih manfaat ekonomisnya. Mereka memanfaatkan mangrove hanya sebagai bahan bangunan atau kayu bakar. Alih fungsi lahan mangrove menjadi tambak umum terjadi. Padahal, keberadaan mangrove sangat diperlukan sebagai pencegah abrasi dan erosi, menyerap emisi karbon, juga sebagai ekosistem yang baik bagi biota perairan seperti ikan dan udang.

Mereka juga beranggapan bahwa mangrove tidak dapat memiliki nilai ekonomi seperti halnya pohon pinang yang selama ini menghidupkan perekonomian. Disinilah, Qorry menjalani perannya sebagai fasilitator rehabilitasi dan budidaya mangrove dengan cara memperkuat aktivitas penanaman mangrove.

Menanam mangrove (dok. Instagram @qorryoktaviani03)

Kelompok Batik Pangkal Babu dan Pewarna Alami

Dalam hal pendampingan budidaya hasil alam, awalnya Qorry berfokus kepada budidaya perikanan, dimana saat itu produksi ikan dan udang hanya dijual dalam keadaan mentah. Ia lantas mengajak masyarakat untuk melakukan pengolahan produksi agar dapat memiliki nilai tambah.

Melalui pendampingan dalam kewirausahaan, Qorry bersama warga melakukan pengolahan udang menjadi produk yang memiliki daya jual tinggi, yaitu kerupuk udang. Langkah kecil ini membuahkan hasil. Pendapatan warga mulai meningkat, kepercayaan terhadap pendamping semakin tinggi, masyarakat pun mulai terbuka terhadap gagasan baru.

Keberhasilan itu mendorong Qorry untuk memikirkan inovasi lain di bidang budidaya mangrove yang dapat mendongkrak pendapatan lokal sekaligus pemberdayaan masyarakat, khususnya ibu-ibu. Ide cemerlang muncul ketika ia berbincang dengan salah satu warga, bernama Nurhasanah, yang memiliki keahlian membatik sejak lama: abadikan estetika mangrove dalam selembar kain batik.

Dengan pendampingan Qorry, Nurhasanah beserta delapan ibu rumah tangga lainnya membentuk kelompok pembatik yang kemudian dinamakan Kelompok Batik Taman Sari Pangkal Babu yang kini telah resmi terdaftar di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Didorong oleh semangat yang sama, yaitu melestarikan lingkungan, para wanita tersebut memulai karya mereka dengan peralatan seadanya. Tak ada akar, rotan pun jadi. Keterbatasan dana untuk membeli alat cetak batik dari plat besi tidak menyurutkan semangat. Mereka membuat cetakan yang terbuat dari karton bekas susu dan mie.

Motif yang ditampilkan pada batik buatan ibu-ibu Pangkal Babu ini bukan sekadar hiasan. Mangrove, burung bangau, kepiting dan udang menjadi simbol ekosistem pesisir yang menopang kehidupan mereka. Menurut mereka, motif-motif itu merupakan representasi dari eksistensi hutan mangrove yang sangat penting bagi masyarakat pesisir.

Cetakan batik berbentuk pohon bakau yang terbuat dari karton bekas. (Dok. Mongabay Indonesia)

Awalnya, Qorry beserta kelompok batik Pangkal Babu membatik menggunakan pewarna tekstil pada umumnya. Seiring berjalannya waktu, Qorry menerima ilmu baru, bahwa kulit bakau serta buah pidada dapat dijadikan sebagai pewarna alami untuk batik. Ia lantas mencoba menerapkannya dengan melakukan beberapa percobaan awal, yang kemudian berhasil.

Pewarna alami tersebut memberikan hasil batik yang menarik dan terlihat natural. Dengan inisiatif ini, Qorry pun memperkenalkan konsep baru kepada masyarakat, yakni “Konservasi Mangrove dalam Selembar Batik.”

Konsep tersebut memberi bukti bahwa dari bahan yang semula tidak memiliki nilai sama sekali ternyata mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hingga kini, batik mangrove dari Pangkal Babu telah memproduksi secara rutin 17 motif batik yang telah dikenal luas melalui berbagai event daerah maupun nasional.

Per bulannya, Kelompok Batik Taman Sari mampu menghasilkan 35 lembar batik, dimana untuk batik tulis –yang pembuatannya membutuhkan waktu berminggu-minggu- dipasarkan dengan harga Rp. 300.000 – Rp. 350.000. Sedangkan untuk batik cap dijual dengan harga Rp. 135.000 – Rp. 180.000. Angka tersebut memang belum menjadikan mereka industri besar, namun cukup untuk meningkatkan pendapatan dan kemandirian para anggotanya.

Identitas Budaya, Dongkrak Pendapatan

Keuletan Qorry dan kegigihan para ibu di Pangkal Babu menghadirkan sebuah produk unggulan yang mampu melahirkan sebuah identitas budaya bagi Pangkal Babu. Apresiasi terhadap produksi Batik Mangrove didapatkan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, ketika berkunjung ke kawasan Ekowisata Pangkal Babu pada 17 Maret 2024. Dalam kunjungannya, beliau menekankan pentingnya keberadaan mangrove pada ekowisata, tidak hanya dari segi ekologis, namun juga memiliki peran sebagai penggerak ekonomi kreatif daerah.

Kelompok Batik Pangkal Babu (dok. Instagram @batikpangkalbabu

Sejak Batik Mangrove semakin dikenal luas, penghasilan para anggota Kelompok Batik Taman Sari semakin meningkat. Sebelum memiliki keahlian membatik, umumnya mereka bekerja sebagai buruh kasar di kebun kelapa dengan pendapatan yang sedikit. Setelah bergabung dengan kelompok batik ini, mereka mendapati bahwa diri mereka lebih produktif dan mampu membantu keuangan keluarga dengan lebih baik.

Selembar Batik, Sebuah Harapan dari Pesisir

Pada tahun 2023, dedikasi Qorry dalam menyulap eksistensi mangrove menjadi sebuah karya seni yang berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan peningkatan ekonomi lokal, membuahkan apresiasi dari sebuah ajang penghargaan bergengsi, yakni Satu Indonesia Award yang dipersembahkan oleh Astra. Penghargaan ini adalah wujud pengakuan terhadap kontribusi nyata dari anak negeri dalam menciptakan karya yang berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.

Bagi Qorry, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Besar harapan Qorry, melalui selembar batik, orang dapat melihat keindahan sekaligus memahami pentingnya mangrove. Bahwa kain yang dikenakan bukan hanya produk kriya, melainkan simbol keberlanjutan, kemandirian, dan perubahan cara pandang.

Dari pesisir Jambi, Batik Mangrove Pangkal Babu menjadi bukti bahwa menjaga lingkungan dan mengangkat perkonomian bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika kesadaran, kreativitas, dan keberanian untuk memulai bertemu dalam satu tujuan yang sama. #APAxKBN2025

Referensi : akun Instagram @qorryoktaviani03, akun Instagram @batikpangkalbabu, mongabay.co.id, halojambi.web.id, goodnewsfromindonesia.id, lindungihutan.com.

Tags: , , ,