“Pak, minggu depan aku waktunya bayar arisan PKK. Terus, SPP nya Bagus juga sudah ditagih. Piye, pak?”
Pak Bejo menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya pelan. Duduk berdua dengan istrinya, merokok sambil mengopi begini adalah rutinitas hariannya yang tak pernah terlewatkan. Meski lebih banyak mendengarkan keluhan istrinya daripada mengeluarkan uneg-unegnya, pak Bejo tetap menikmati momen ini.
“Yang bulan lalu sudah menunggak. Bulan ini jadinya dobel. Gurunya sudah wanti-wanti minggu depan harus bayar. Nggak tau kalo nggak bayar dikasi sanksi apa”, lanjut bu Bejo yang sedang kesusahan memasukkan benang ke dalam jarum.
“Hoalah bu… bu… wong ya sudah tau kalau kita itu lagi kesulitan uang, kok maksa ikut arisan”, gerutu pak Bejo. Lelaki berkumis tipis itu mulai menyeruput kopi pahit favoritnya.
“Buat SPP nya Bagus ada kok bu. Tadi alhamdulillah jualanku lumayan laris. Ditambah sama tabungan minggu kemarin, ya cukup lah. Tapi kalau buat arisan PKK yo ora ono. Misal ada ya nggak bakal tak kasih, mending buat beli beras.”
Bu Bejo cemberut. “Kok gitu to pak. Arisan ini penting lho. Bisa kumpul-kumpul sama ibu-ibu. Jadi update gitu loh sama info-info kekinian. Terus kan lumayan kalau bisa dapet arisan di awal. Satu juta lho pak. Bisa buat bayar cicilan hape nya thole sama cicilan panciku.”
Jarum jahit mulai menari-nari di atas seragam si Bagus yang akan diganti betnya, dari kelas tiga menjadi kelas empat. Dari minggu kemarin, anak sulungnya itu sudah merengek minta dijahitkan, padahal sekolahnya masih daring gara-gara pandemi. Alasan Bagus waktu itu, “Biar keliatan keren di kamera zoom gitu buk… sudah kelas empat gitu loh”.
“Aku kan sudah sering bilang, jangan suka hutang bu …, nambahin pikiran. Sudah ah, aku istirahat bentar, mumet aku”.
Pak Bejo beranjak dari amben, membenarkan sarungnya yang hampir melorot, dan berlalu menuju kamar. Bibir bu Bejo makin maju, kesal dengan suaminya yang tidak membantu memikirkan nasib uang arisannya, dan cicilan pancinya.
Usai menjahit, bu Bejo menyimpan seragam Bagus di almari. Ketika hendak menutup pintu almari, sepasang tangan mungil memeluk perut bu Bejo dari belakang. “Ibuk kok tambah gendut siih…!” celutuk Minar, si bontot yang hobinya membenamkan tangannya ke perut ibunya yang katanya seperti marshmallow berukuran raksasa.
“Hush, jangan bilang gendut-gendut to, nduk.. Ibuk ini langsing!” gurau bu Bejo sambil menggelitik perut putrinya dengan gemas. Gadis lima tahun itu tertawa cekikikan. Tangan kanannya terlihat menggenggam gawai yang ujung-ujungnya sudah bocel.
“Eh, hape nya boleh ibu pake sebentar ya, nduk? Ibuk mau jualan dulu”, pinta bu Bejo.
Minar terlihat enggan mengembalikannya. Mulutnya manyun maksimal. Bu Bejo tersenyum sambil mengusap rambut Minar. “Doakan jualan ibuk banyak yang beli ya nduk, biar bisa beli hape baru, nanti boleh dipake lama sama Minar. Tapi nggak boleh banyak game nya ya, liat video-video kayak nussa rara gitu aja.”
Senyum mulai merekah di bibir mungilnya. “Aamiin…moga-moga ibuk habis ini kayaaa…!”
***
