Tentang Cita-Cita Anak

Tiba-tiba teringat beberapa tahun yang lalu, saat saya menghadiri acara perpisahan murid TK B di sekolah si sulung. Sambutan yang disampaikan oleh ibu Pengawas Sekolah cukup membuat saya termenung. Beliau bertutur tentang cita-cita anak TK. Umumnya, ketika mereka menerima pertanyaan tentang ‘mau jadi apa kelak’, jawabannya adalah : polisi / dokter / guru / insinyur / tentara, pokoknya cita-cita mainstream anak usia dini, tanpa tahu betul sebenarnya itu apa.

Seiring waktu, cita-cita itu berubah. Apalagi kalau sudah lulus SMA, puyeng deh mau memilih jurusan apa, karena kurang paham bakat dan minat yang kurang terasah sejak dini. Beliau bercerita bahwa putranya yang telah menjadi dokter sempat berkata bahwa menjadi dokter itu “tidak enak”. Intinya, anak kecil memang belum paham sama sekali arti cita-cita.

Saya pun mendadak menjadi refleksi diri. Sedari kecil ingin menjadi dokter. Besar sedikit, ingin menjadi dosen seperti papa. Sesaat sebelum lulus SMA mulai galau, karena tidak punya keahlian yang benar-benar nyata, hanya mampu mengandalkan kemampuan menjawab pertanyaan-pertanyaan UMPTN (sekarang SBMPTN). Akhirnya, pilihan jatuh ke jurusan arsitektur.

Menurut KBBI, arti cita-cita adalah keinginan (kehendak) yang selalu ada di dalam pikiran. Berarti jika belum dipikirkan secara terus menerus, dan hanya numpang lewat sesekali saja di otak, belum dapat dikatakan sebagai cita-cita. Ingin menjadi pengusaha sukses, tapi seringkali yang dipikirkan hanyalah bagaimana caranya menambah modal yang berakibat gali lubang tutup lubang, ya nonsense.

Kembali ke topik utama. Anak-anak, dengan kepolosan pikirannya, setiap melihat seseorang yang dirasa menarik dan mengagumkan baginya, umumnya akan mengatakan “Ayah, Bunda, aku nanti kalau sudah besar boleh ya jadi kayak orang itu.” Disitulah saya melihat bahwa seharusnya memang bukan cita-cita profesi yang harus terus dipertanyakan atau diperkenalkan kepada anak-anak, tapi cita-cita keahlian.

Contoh kecil, anak pertama saya, setiap melihat ayahnya sibuk mengoprek motor, selalu memasang ekspresi takjub seraya nongkrong di dekat ayahnya. Lalu, ia mengambil motor mainannya, seperangkat alat pertukangan milik ayahnya, dan mulailah ia cosplay menjadi montir cilik. Atau ketika saya sedang memasak, ia selalu setia megintip sambil berceloteh, “Nanti aku kalau sudah SMP bisa masak kayak bunda, ya.”

Dan celotehan-celotehan berikut ini sering didengungkan setiap hari :
“Nanti aku SD bisa setrika sendiri ya, Bun”,
“Aku kalau sudah gede pingin bisa nggambar rumah kayak Bunda”,
“Kalau sudah gede aku harus pintar bikin apa-apa sendiri kayak ayah”,
“Bun, aku boleh nyuci piring sendiri ya nanti kalau sudah SD?”
dan beragam celotehan lain.

Jadi, kalau dia ditanya kelak kalau sudah besar mau jadi apa, ia kerap bingung, karena dia tidak terlalu memahami. Yang dia pahami adalah skill. Ia pernah satu kali mengutarakan profesi yang dia inginkan, “Aku nanti jadi polisi aja deh, Bun, soalnya seragamnya bagus dan bisa nangkep maling”, yang langsung saya sambut dengan gelak tawa. Begitulah anak-anak.

Sekali lagi, berkaca pada kegagalan saya menemukan jati diri di usia remaja, maka saya tidak ingin anak-anak saya mengulang kesalahan yang sama. Semoga dengan segala keterbatasan keahlian yang dimiliki oleh orangtuanya, ia dapat menyerapnya dengan baik. Selanjutnya, terserah dia, mau memilih jalan hidup seperti apa. Yang jelas, jika bekal basic skills sudah dimiliki, insyaAllah kedepannya akan lebih mudah menaklukkan ujian dan tantangan yang menghadang, sekaligus bisa meraih cita-cita yang diharapkan.

1 thought on “Tentang Cita-Cita Anak”

  1. Pingback: 4 Tips Memilih Tas Anak Sekolah Yang Berkualitas - Lee Ara

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top