Baru saja bu Bejo membuka pintu depan rumahnya, suaminya menyambut dengan senyum lebar dan mata berbinar. “Alhamdulillah bu, pesenan pangsit mie nya tadi nggak ada berhentinya. Sampai aku tutup lapak ku gara-gara kehabisan pangsitnya hehehe…”.
Bagus keluar dari kamar sambil menggandeng Minar. “Iya buk, aku tadi sampek capeek mbantuin bapak!”. Minar dan ayahnya tertawa tergelak-gelak. Seketika itu, mendung yang sedari tadi menggelayuti hati bu Tejo perlahan sirna. “Alhamdulillah ya, pak…” ucapnya lirih. Ia kemudian menciumi pipi anak-anaknya satu-satu. Tak lupa pipi suaminya pun ikut mendapat jatah.
Setelah melepas maskernya, wanita itu menyiapkan kopi dan gorengan untuk suaminya, lalu duduk bersama di amben favorit mereka.
“Piye buk arisane? Dapet nggak?” tanya pak Bejo sambil menyalakan korek, siap menyulut rokoknya. Diingatkan seperti itu, bu Bejo kemudian meraba saku bajunya dan mengeluarkan isinya. Tiba-tiba dia merasa bersalah kepada suaminya.
“Maaf yo pak, aku tadi hutang lima ratus ribu ke PKK. Buat bayar arisan bulan lalu sama sekarang. Ini sisanya tiga ratus ri….lho…kok banyak banget ini isinya??”
Bu Bejo buru-buru mengeluarkan semua uang yang ada di dalam amplop dan menghitungnya dengan cepat. Mulutnya menganga lebar, seakan tak percaya apa yang dilihatnya. Matanya kemudian tertuju pada secarik kertas yang terselip di antara lembaran berwarna merah itu. Terlihat bahwa kertas itu disobek dengan terburu-buru dari sebuah buku.
Pak Bejo ikut kaget dan berteriak. “Lahdalah, banyak banget buk kalo hutang??”
Bu Bejo menempelkan telunjuknya ke bibir suaminya. Ia kemudian membaca tulisan yang ada di atas kertas itu.
Bu Bejo, ini tadi bu Sofi menitipkan uang arisan 1juta buat njenengan. Katanya biar dipakai sama bu Bejo dulu. Nanti kalau bu Bejo sudah dapat arisan aja baru uangnya dikembalikan ke bu Sofi. Semoga bermanfaat ya bu. Salam. Bu Titik.
Mendung memang sudah hilang dari hati bu Bejo, namun sekarang berganti gerimis nan syahdu, melunturkan semua kotoran yang melekat di hati bu Bejo. Yang tersisa hanyalah rasa malu. Malu kepada Allah, malu kepada suami dan orang-orang baik itu. Ia merasakan matanya mulai basah. Segera ia mengusap matanya sebelum suaminya mengoloknya.
Tanpa menunggu lebih lama, bu Bejo meraih gawainya dan mengirimkan pesan whatsapp kepada bu Titik. Ia berterima kasih sekaligus memohon maaf atas sikapnya yang kurang berkenan. Ia juga menyampaikan bahwa akan segera mengembalikan uang pinjamannya hari ini juga dan meminta ijin untuk berhenti dari arisan PKK jika putaran yang ini sudah selesai. Ia tahu apa yang harus dilakukan setelah ini, yaitu fokus membantu suaminya, mengembangkan usaha kulinernya. Sudah kapok berhutang.
“Lho buk, mau kemana lagi?” seru pak Bejo kepada istrinya yang baru saja melesat ke arah pagar. “Ke rumah bu Titik sama bu Sofi pak!Bayar hutaang!”
***
Cerpen ini telah dimuat pada buku antologi berjudul “Sarapan” yang merupakan kumpulan cerpen pemenang lomba Festival Cipta Cerpen Nasional (FCCN) 2021 yang diselenggarakan oleh Fun Bahasa.
