Arisan

Minggu sore, ibu-ibu RT 05 berkumpul di rumah bu Ningsih. Memakai seragam PKK lengkap dengan masker berwarna senada, mereka yang berjumlah dua puluh sembilan orang itu duduk berlesehan di ruang tamu. Di tengah-tengah tikar telah dihidangkan penganan dan minuman beraneka warna dan rasa yang menggugah selera. Namun mereka harus menahan diri untuk mencicipinya karena saat ini bu RT sedang menyampaikan beberapa informasi terkait program-program kerja yang akan dilaksanakan di era pandemi ini.

Sementara itu di rumah bu Tejo…

“Alhamdulillah ada tambahan pesenan lagi, lima porsi. Bantuin lagi ya buk!”.

Rupanya pak Bejo sore ini sedang kebanjiran order. Sejak tadi siang, uap tidak berhenti mengepul dari panci yang digunakan untuk merebus mie dan bakso. Bu Bejo sibuk meracik minyak dan bumbu-bumbu ke dalam wadah-wadah yang sudah disiapkan. Bagus memasukkan kerupuk pangsit ke dalam plastik. Sementara Minar cukup menjadi penggembira, menyanyikan lagu Let It Go dengan nada sumbang sambil menari berputar-putar di dapur.

“Pak, udah tak siapkan bumbunya semua ya. Wes aku berangkat arisan dulu, takut telat pas ngocoknya. Bagus, bantu Bapakmu ya, le, jangan main dulu.” Bagus mengangguk mengiyakan pesan ibunya. Bu Bejo bergegas merapikan jilbabnya, memasang maskernya dan bersiap membuka pagar. Dari dalam rumah pak Bejo berseru, “Ada yang order lagi ini buk, lima porsi!”. Bu Bejo balas berteriak, “Maaf paak, aku udah telaat!”

Bu Bejo berjalan setengah berlari ke rumah bu Ningsih. Sesampainya disana, ia keheranan. Para ibu nampaknya sudah mulai beranjak dari tempat duduknya masing-masing dan bersalam-salaman. Lho, kok sudah selesai sih? Cepet banget, keluh bu Bejo dalam hati.

Bu Bejo menghampiri bu Nina yang terlihat masih duduk di atas tikar, khusyuk mencicipi arem-arem. “Bu Nin, tadi yang dapat arisan siapa saja?”.

“Lho bu Bejo kok baru datang? Tadi yang dapat bu Tika, bu Agus sama njenengan. Karena bu Bejo nggak ada, dikocok lagi, gantinya bu Sofi”, jawab bu Nina sambil menyeruput teh manis.

Bu Bejo terhenyak. Hilang sudah kesempatan dapat arisan bulan ini. Padahal lagi butuh-butuhnya uang. Gara-gara kelamaan bantu bapak sih, gerutunya dalam hati. Bu Titik yang baru saja menyadari kedatangan bu Bejo bergegas menghampiri.

Lhoalah bu…belum bejo njenengan. Harusnya tadi njenengan dapat, tapi sesuai peraturan arisan, jika orangnya nggak hadir, ya dianulir” jelas bu Titik.

Raut muka kecewa terlihat jelas di wajah bu Bejo. Mendadak ia benci dengan peraturan itu. Dengan nada sedikit meninggi, ia menyanggah, “Tapi kan sekarang saya sudah hadir bu. Jadi yang dapat tetep saya donk. Kan yang dimaksud dengan peraturan tadi itu untuk yang sama sekali tidak hadir arisan. Kalau saya kan hadir walau terlambat”.

Sambil beranjak dari duduknya, bu Nina menyahut, “Lha terlambatnya pas acara sudah selesai, bu. Kalau terlambatnya pas belum dikocok ya masih bisa. Sudah bu, bulan depan kan masih bisa. Ayo pulang saja. Tuh, nasi kotaknya lagi dibagikan sama bu Ningsih di depan.”

 “Oh iya, sebentar nggih bu, saya ambilkan uang pinjamannya”. Bu Titik pergi meninggalkan bu Bejo yang masih mendongkol. Tanpa ia sadari, ada seseorang yang sedari tadi mencuri dengar perbincangan mereka dari balik pintu ruang tamu.

Lima menit kemudian, bu Titik kembali menghampiri bu Bejo.

“Ini ya bu, uang pinjamannya. Saya potong seratus ribu lagi nggih. Karena bulan lalu kan njenengan pinjam ke saya buat bayar arisan, inget kan bu? Kemaren mau saya tulis di WA kok sungkan saya. Jadi lima ratus ribu dipotong seratus untuk saya, seratus untuk arisan hari ini, jadi sisanya tiga ratus ribu.” lanjut bu Titik sembari menyerahkan sepucuk amplop putih kepada bu Bejo yang menerimanya tanpa berkata sepatah kata pun. Ia masih merasa kesal dengan ini semua. Sudah gagal mendapat uang arisan, uang pinjamannya juga masih dipotong seratus lagi gara-gara hutangnya bulan lalu yang benar-benar terlupa olehnya.

Bu Titik hanya bisa menghela nafas panjang melihat bu Bejo yang buru-buru pulang setelah menerima nasi kotak dari bu Ningsih. Tanpa  mengucap salam, wanita yang warna maskernya tidak matching dengan warna jilbabnya itu pergi meninggalkan rumah bu Ningsih.

***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top